Kebun Belakang, Menjadi Manusia Seutuhnya

Misbah dan putrinya tengah memetik hasil kebun. (Foto: istimewa)

Masyarakat tradisional selalu memanfaatkan halaman belakang rumahnya untuk kebun. Di tempat ini, mereka kerap menanam dan memelihara berbagai tumbuhan dan hewan ternak untuk menjaga suplai gizinya sehari-hari. Dengan kata lain, halaman belakang membantu untuk menciptakan masyarakat mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan pangannya sehari-hari.

Berangkat dari filosofi ini pula lah, Misbah dan Ivana berusaha mewujudkannya melalui Kebun Belakang. Keduanya menggarap area seluas 1.600 meter persegi untuk menanam berbagai sayuran dan buah-buahan serta memelihara ayam secara permakultur. “Kelebihan hasilnya kami olah dan jual ke masyarakat,” papar Misbah.

Misbah dan Ivana mulai membangun Kebun Belakang pada 2014, selepas keduanya tiba di Bandung setelah tugas belajar di Swedia. Mereka memulainya dari sebuah greenhouse berukuran 5 x 7 meter persegi. Perlahan tapi pasti, keduanya mulai mengembangkan variasi tanaman, hingga mampu menggarap keseluruhan lahan.

Pada akhir pekan, pasangan dengan dua anak ini membuka warung kecil di sebelah rumahnya. Mereka menjual olahan hasil kebun, seperti: salad, berbagai jenis kefir, keju, serta selai. Seluruh bahan baku produk olahan tersebut merupakan hasil panen dari Kebun Belakang.

Misbah dan kedua anaknya di warung yang berdiri tepat di sebelah rumah mereka. (Foto: istimewa)

Kebun Belakang sendiri sangat mudah kita temui di Jalan Pesantren No. 85, Cimahi, Jawa Barat. Lokasinya persis di pinggir jalan utama. Kita bisa mengikuti kegiatan mereka melalui akun Instagram di @KebunBelakang. Atau bisa juga menghubungi mereka melalui WhatsApp di +62821 2124 7264.

Berkebun bagi Misbah dan Ivana merupakan cara untuk mengajarkan anak-anaknya tentang pentingnya menghargai proses, mencintai lingkungan, serta menghargai keragaman. “Berkebun juga menjadi cara kami untuk bersyukur kepada Tuhan,” tegas Misbah.

Kini, Misbah dan Ivana juga membuat rumah kecil di area timur kebun mereka. Rumah ini berfungsi sebagai tempat tinggal para pembelajar permakultur dan berkebun untuk tinggal selama beberapa pekan. Dengan cara ini, mereka berharap bisa berbagi kepada lebih banyak orang tentang membangun kemandirian pangan. “Karena mandiri secara pangan memungkinkan manusia hidup seutuhnya,” tandas Misbah.***

Tinggalkan Balasan