1000Inspirasi

Ngeruk: Berkunjung ke Sendalu Permaculture

Untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja, Komunitas 1000Kebun mengadakan NGERUK: Ngebon Seru, Yuk! virtual melalui Instagram LIVE. Para pegiat komunitas dan berbagai narasumber secara langsung bercerita aktivitasnya, serta berbagi tips berkebun. Artikel ini merupakan ulasan dari NGERUK Virtual Komunitas 1000Kebun bersama Sendalu Permaculture yang dilaksanakan pada hari Rabu, 1 April 2020. Yang menjadi pengisi materi pada sesi NGERUK kali ini adalah Gibran Tragari, Founder Sendalu Permaculture, serta dipandu oleh Vania Febriyantie (Tim Pengurus Komunitas 1000Kebun).

Pandemi Corona ini mengharuskan kita untuk #dirumahaja, tapi bukan berarti kita hanya berdiam diri saja. #Berkebunpagi bisa jadi kegiatan yang menyehatkan, selain mendapat sinar matahari pagi juga bisa mendekatkan diri terhadap lingkungan sekitar kita. Berkebun bisa dimana saja, tidak harus punya lahan luas yang berhektar-hektar. Salah satu penggiat berkebun yang akan diulas kali ini adalah salah satu rekan kami yaitu Gibran Tragari (@gibongtr), penggagas Sendalu Permaculture (@sendalu.permaculture), yang memanfaatkan atap galerinya seluas 200m2 untuk berkebun dengan metode permakultur. Gibran merintis Sendalu Permaculture sejak Januari 2017 setelah mengikuti pelatihan Permakultur Bumi Langit di Yogyakarta.

Gibran menyatakan bahwa motivasi dia berkebun hanya sekadar memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk sumber karbohidrat, Gibran menanam sorghum, ubi jalar, singkong.  Kebutuhan sayuran dipenuhi dengan menanam selada, sawi, kangkung, daun katu, pepaya jepang, kelor, mangkokan, cabai, tomat dan lain sebagainya. Tanaman bunga-bungaan seperti torenia, kenikir, bunga kertas, jengger ayam juga menjadi bagian dari kebun tersebut. Selain sebagai pengusir hama, beberapa jenis bunga juga dapat dimakan. Di lahan Sendalu Permaculture juga terdapat pohon buah-buahan seperti sukun, murbei, belimbing, rambutan, mangga, duren, pisang, pepaya, dan sebagainya. Tak hanya berkebun, Gibran juga beternak ayam, lebah dan juga kelinci.

Menurut Gibran, permakultur berbeda dari metode pertanian lainnya berdasarkan beberapa aspek. Permakultur didasarkan pada tiga etika, yaitu peduli terhadap manusia, peduli terhadap alam, dan berbagi adil untuk alam dan manusia. Secara berangsur-angsur, Sendalu Permaculture mulai berkembang dengan visi kemandirian pangan untuk diri sendiri. Gibran belum berpikir menjual hasil pertaniannya, karena keterbatasan lahan untuk menjual hasil pertanian berkelanjutan. Namun, ia mencoba untuk menjual benih dan bibit tanaman.
Sendalu Permaculture juga menerapkan sistem yang ramah lingkungan. Praktik pemilahan sampah dan pengurangan konsumsi sampah menjadi praktik yang tak terpisahkan dari Sendalu Permaculture. Sisa sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Manajemen air juga diperhatikan dengan saksama. Air yang digunakan akan ditampung untuk digunakan kembali, sedangkan sisanya dialirkan agar terserap ke dalam tanah.

Dalam Ngeruk kali ini, Gibran membagikan tips untuk berkebun di atap, alias rooftop garden. Merancang kebun atap perlu melalui beberapa tahapan, antara lain:

  • Observasi, dilakukan untuk mengetahui lokasi atap yang akan digunakan sebagai kebun atap. Hal selanjutnya adalah memeriksa kekokohan dan luas area yang akan digunakan untuk kebun atap.
  • Desain, ditentukan oleh jenis tanaman yang akan ditanam. Disarankan untuk menanam tanaman yang disukai.Pemilihan material untuk atap juga perlu diperhatikan. Bila atap yang tersedia kurang kokoh, maka penanaman dapat memakai material yang ringan, seperti pot atau pallet kayu.
  • Menyiapkan media tanam. Untuk mengurangi bobot, media yang diperlukan memakai media yang ringan, yaitu memakai sekam bakar, cocopeat, kompos dan tanah dengan perbandingan 1:1:1:1
  • Mulaiah dengan menanam tanaman yang kita sukai.

 

Hasil PengeringanSaat kami berkunjung ke Sendalu Permacultur melalui #NGERUK Virtual Live Instagram (Rabu, 1 April 2020), Gibran mengajak kami berkeliling kebun atapnya. Sebagian besar tanaman yang ia tanam didominasi oleh tanaman perennial (tahunan). Tanaman perennial dipilih karena perawatannya tergolong mudah, bila dibandingkan dengan tanaman annual. Tanaman perennial dapat dipanen terus menerus setelah 8 bulan masa penanaman, asalkan ekosistemnya terjaga. Tanaman perennial yang ditanam dan sering dipanen diantaranya katuk, singkong, bayam brazil, daun papaya jepang atau gedi, pepaya, bunga telang dan beberapa jenis empon-emponan. Pengolahanan untuk dikonsumsi bermacam-macam tergantung jenis tanamannya. Sebagian jenis dapat dikonsumsi mentah, beberapa dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah, dan ada juga yang langsung dimasak untuk dikonsumsi.

Setelah lebih dari 3 tahun berproses dan bertumbuh di Sendalu Permaculture, Gibran berhasil menemukan ritmenya sendiri dalam berkebun. Setiap pagi, ia meluangkan waktu untuk berkebun selama 1 jam. Aktivitas yang dilakukan antara lain membereskan 3 bedengan, mencabuti gulma yang jadisumber makanan untuk kelinci, menyiram tanaman, membuat stek tanaman, memanen sayuran dan lain sebagainya.Gibran mengawali Sendalu Permaculture untuk memenuhi kebutuhan pangan dari hasil kebun sendiri. Hingga saat ini, kegiatan rutin Sendalu Permaculture tidak hanya berkebun, tetapi juga menggelar diskusi dan workshop dengan berbagai tema. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menjalin kolaborasi bersama komunitas-komunitas yang memiliki visi yang sejalan.

Semoga ulasan NGERUK ini dapat menginspirasi untuk berkebun selama #dirumahaja. Selamat mencoba, nikmati prosesnya. Jangan lupa bagikan cerita pengalaman berkebun anda ke Instagram Komunitas 1000Kebun. Selamat Berkebun!

Sumber tambahan:

https://wartapilihan.com/berkebun-sebuah-revolusi-sunyi/2/

http://majalahpeluang.com/gibran-tragari-kemandiran-pangan-berkelanjutan/

Penulis: Vania Febriyantie | Editor: Edo Sistanto | Foto: Sendalu Permaculture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *