1000Inspirasi 1000Kiat

Ngeruk: Tanaman Pangan Tahunan di Kw Kreasi untuk Ketahanan Pangan

Untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja, Komunitas 1000Kebun mengadakan NGERUK: Ngebon Seru, Yuk! virtual melalui Instagram LIVE. Para pegiat komunitas dan berbagai narasumber secara langsung bercerita aktivitasnya, serta berbagi tips berkebun. Artikel ini merupakan ulasan dari NGERUK Virtual Komunitas 1000Kebun bersama Kw Kreasi yang dilaksanakan pada hari Kamis, 9 April 2020. Yang menjadi pengisi materi pada sesi NGERUK kali ini adalah Krisna, Founder Kw Kreasi, serta dipandu oleh Vania Febriyantie (Tim Pengurus Komunitas 1000Kebun).

Krisna Putra Waworuntu atau yang lebih akrab disapa Krisna ini tumbuh di lingkungan pertanian keluarga. Sejak tahun 2008, Krisna tinggal di Bumi Langit, Yogyakarta, sebuah institusi permakultur yang digarap oleh ayahnya. Namun di tahun 2017, Krisna memutuskan untuk membuat sendiri laboratorium permakulturnya di Bali dengan nama Kw Kreasi, supaya bisa bereksperimen lebih jauh. Di Kw Kreasi, Krisna mencoba menciptakan siklus alam untuk mendukung keberlanjutan manusia yang tinggal di dalamnya, tentu dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kearifan budaya lokal yang dilakukan secara kreatif. Hal tersebut bisa dilihat dari sistem irigasi yang dibuat di area Kw Kreasi dengan mengaplikasikan sistem irigasi Subak ala masyarakat Bali.

Di kebunnya, Krisna menanam beragam tanaman pangan supaya bisa dijadikan komoditas pangan harian. Namun di balik kesibukannya berkebun, Krisna pun memiliki kebiasaan berpergian dan meninggalkan kebun dalam jangka waktu yang panjang, maka dari itu tanaman pangan yang dipilihnya untuk ditanam di kebun ini adalah jenis-jenis tanaman pangan tahunan atau tanaman perennial, misalnya seperti chaya, papaya, pakis dan genjer.

Berikut adalah tahapan-tahapan yang bisa dilakukan untuk memulai berkebun dengan menanam tanaman perennial:

  1. Pengolahan Lahan. Pengolahan lahan ini bisa dilakukan di tahun pertama ketika akan menanam. Prosesnya cukup berat, mulai dari membersihkan lahan hingga mencangkul dan pemberian nutrisi tambahan pada tanah berupa kompos. Kerja keras yang tinggi harus disiapkan di proses awal ini.
  1. Penanaman. Di dalam proses ini, jika ingin memaksimalkan hasil akhirnya nanti, apalagi jika lahan yang dimiliki tidak besar, maka tanamlah tanaman perennial. Misalnya tanaman sayuran yang produktivitasnya vertical, jadi bisa ditanam tanaman lainnya. Contohnya adalah menanam kangkung, bayam Brazil dan kunyit.
  1. Perawatan. Keuntungan dari menanam tanaman perennial adalah jika tanaman tersebut sudah tumbuh, maka proses penyiramannya tidak perlu dilakukan terlalu sering, tidak perlu diberi pupuk, cukup diberi mulsa dan biarkan membusuk di atas tanahnya, serta rutin dilakukan penggemburan dengan bantuan alat garpu.
  1. Panen. Tanaman bisa mulai dipanen di bulan ke 6-8, tergantung jenis tanaman apa yang ditanam. Proses panen ini harus rutin dilakukan karena tanaman akan senang dan menghasilkan lebih banyak lagi jika sudah dipanen. Sebab semakin sering panen, maka semakin banyak cabang dari tanaman itu sendiri.

Karena pengalaman Krisna dalam berkebun ini cukup lama, Krisna pun membagikan gardening hacksnya untuk teman-teman yang ingin menanam tanaman rimpang di halaman/teras rumah yang sempit, yaitu sebagai berikut:

  1. Siapkan karung goni, beri lubang di bagian bawahnya dan gulung bagian atasnya sampai tersisa 30 cm.
  2. Isi media tanam ke dalam karung tersebut dengan perbandingan 60:40 atau 50:50 antara media tanam dan kompos.
  3. Jika sudah tumbuh dan semakin tinggi, buka gulungan karungnya sedikit demi sedikit, kubur lagi dengan media tanam. Kemudian ulangi proses ini sampai bagian karung yang tergulung habis dan penuh dengan media tanam. Maka nanti umbinya akan penuh dan tumbuh di sepanjang karung tersebut.

Tanaman perennial yang ditanam tidak terbatas pada tanaman rimpang dan sayur berdaun, tetapi juga tanaman berbuah. Salah satu tanaman berbuah yang dapat dipilih adalah tomat. Menanam tomat tergolong susah-susah gampang, terutama menghadapi pembusukan tanaman akibat serangan hama. Tomat tergolong tanaman yang rentan terhadap hama. Solusinya, tanamlah tomat berdampingan dengan tanaman lainnya (polikultur). Penanaman di lahan sempit atau tidak bertanah dapat disiasati dengan menanam tomat dalam pot berukuran besar, berdampingan dengan bunga kenikir atau marigold dalam pot lainnya.

Tanaman perennial memerlukan sinar matahari yang cukup, namun tidak terlalu terik. Lalu, bagaimana bila lokasi penanaman berada di daerah dengan intensitas sinar matahari tinggi, seperti Palu? Kondisi ini dapat diakali dengan menanam tanaman di tepian atau di bawah naungan pohon yang ada di lahan kebun. Tanaman sebaiknya ditanam di sebelah barat, sehingga tanaman dapat terpapar cahaya matahari pagi, namun terlindungi dari terik matahari di siang dan sore hari. Cara lainnya adalah dengan meminimalisasi evaporasi air dari tanah / media tanam, dengan memberikan mulsa di permukaan tanah. Penyiraman sebaiknya dilakukan sebelum jam 9 pagi dan sesudah jam 3 sore. Penyiraman di siang hari sangat tidak disarankan.

Media tanam atau tanah yang digunakan juga perlu diperhatikan, terutama kadar keasaman tanah. Kadar keasaman (pH) tanah dapat diatur dengan penaburan abu. Pengecekan pH tanah juga harus dilakukan secara berkala. Bila tanah yang ada di lahan tergolong tanah liat, berikan kompos secukupnya lalu tutup denganmulsa. Seiring dengan berjalannya waktu, tanah liattersebut akan gembur karena mikroba yang tumbuh dan berkembang dari media kompos. Arang juga dapat digunakan untuk menggemburkan tanah liat.

Ada satu pesan yang berkesan dari Krisna, katanya, “Mulailah menanam dari sekarang, supaya bisa memetik hasilnya berbulan-bulan ke depan di masa yang akan datang, supaya kita bisa melanjutkan hidup, karena berkegiatan yang sehat dan pikiran yang sehat akan menghasilkan badan yang sehat juga.”

Semoga ulasan NGERUK ini dapat menginspirasi untuk berkebun selama #dirumahaja. Selamat mencoba, nikmati prosesnya. Jangan lupa bagikan cerita pengalaman berkebun anda ke Instagram Komunitas 1000Kebun. Selamat Berkebun!

Penulis: Anggietta Kustina | Editor: Edo Sistanto | Foto: Kw Kreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *