1000Kiat

Ngeruk: Tips Pindah Tanam oleh Kebun Akaran

Untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja, Komunitas 1000Kebun mengadakan NGERUK: Ngebon Seru, Yuk! virtual melalui Instagram LIVE. Para pegiat komunitas dan berbagai narasumber secara langsung bercerita aktivitasnya, serta berbagi tips berkebun. Artikel ini merupakan ulasan dari NGERUK Virtual Komunitas 1000Kebun bersama Kebun Akaran. Yang menjadi pengisi materi pada sesi NGERUK kali ini adalah R. Galih Raditya, Ketua Komunitas 1000Kebun dan Founder Kebun Akaran, serta dipandu oleh Mentari Alwasilah (Tim Pengurus Komunitas 1000Kebun).

Proses pindah tanam atau transplanting merupakan proses lanjutan dari penyemaian, tepatnya setelah benih bertumbuh dan berkecambah menjadi bibit dengan ciri-ciri tertentu lalu bibit tersebut dipindahkan ke media tanam yang lebih besar atau lebih luas seperti pot, raised bed atau lahan yang lebih luas lainnya. Berikut langkah-langkah proses pindah tanam yang dipaparkan oleh Kebun Akaran:

  1. Pastikan Bibit Sudah Siap Pindah Tanam.

Ciri-ciri bibit yang sudah siap pindah tanam adalah ketika benih yang disemai sudah menumbuhkan dua daun pertama (kotiledon) dan dua daun sejati (daun yang memiliki tulang). Pada umumnya ciri-ciri tersebut muncul setelah minggu ke-2 sampai ke-3 penyemaian. Jika pada usia tersebut belum muncul ciri-ciri tersebut maka tunggu hingga 1 minggu lagi, namun jika telah melewati 1 minggu dan belum muncul ciri-ciri tersebut, hal itu menandakan bahwa benih yang ditanam adalah benih yang sakit atau sudah kadaluarsa sehingga tumbuh tidak maksimal. Untuk menghindari benih kadaluarsa dan mengetahui probabilitas benih yang berkecambah, pada saat membeli benih perhatikan tanggal kadaluarsa dan daya tumbuh yang tertera pada bagian belakang bungkus benih. Namun jika kita lupa memindahkan tanaman padahal ciri-cirinya sudah terpenuhi dan sudah melebihi waktu semai pada umumnya, tidak ada salahnya untuk tetap memindahkan bibit tersebut, dengan harapan akan tetap tumbuh. Cara-cara menyemai bisa dilihat di sini.

  1. Tentukan Wadah Tumbuh Tanaman

Sebelum pindah tanam, kita harus menentukan lokasi untuk menampung bibit yang sudah siap pindah. Beberapa tempat yang bisa dijadikan wadah tumbuh adalah lahan perkebunan, raised bed dan pot/polybag/barang-barang bekas. Untuk masyarakat urban yang tidak memiliki lahan cukup luas, wadah tumbuh berupa pot/polybag/barang-barang bekas adalah pilihan yang paling cocok karena wadah-wadah tersebut bersifat portable dan ukurannya yang beragam sehingga bisa disusun berdasarkan kebutuhan di masing-masing lahan. Ukuran wadah tersebut juga tidak terlalu besar sehingga tidak menghabiskan lahan yang terlalu luas.

 

Pada paparan kali ini, Kebun Akaran menggunakan pot berukuran diameter 20cm dan tinggi 20cm sebagai contoh. Ukuran ini merupakan batas minimum untuk jenis tanaman sayuran daun kecil seperti kangkung, bayam, horenzo, selada, caisim, dan pakcoy,dengan hasil yang masih cocok untuk kebutuhan konsumsi. Wadah yang disarankan dapat berupa pot berdiameter 25cm, tinggi 25cm, yang disesuaikan dengan batas tumbuh akar. Meskipun demikian, pada dasarnya tanaman akan mengikuti ruang tumbuh yang mereka tinggali, sehingga apabila tanaman di tempatkan pada wadah yang kecil maka tanaman pun akan cenderung tumbuh dengan ukuran yang kecil meskipun sudah mencapai batas usia ideal, begitupun sebaliknya. Namun ada baiknya tetap memperhatikan batas minimal dan maksimal ukuran ruang tumbuh akar dari masing-masing jenis tanaman. Prinsip ini berlaku juga untuk wadah tumbuh yang lebih besar seperti raised bed atau lahan perkebunan dengan memperhatikan jarak tanam.

  1. Persiapkan Media Tanam

Siapkan wadah tumbuh yang sudah ditentukan, lalu isi wadah tumbuh dengan bahan-bahan berpori atau memiliki porous sebanyak ¼ pot yang berguna untuk mengalirkan air yang berlebih. Sifat bahan berpori tersebut bisa didapatkan dari material sekam, pasir, batu kerikil maupun pecahan genteng. Setelah itu masukan media tanam sampai penuh agar tanaman bisa tumbuh secara maksimal. Pada contoh kali ini Kebun Akaran menggunakan media tanam yang terbuat dari cocopeat/sabut kelapa halus sebagai pengikat air, kascing/kompos untuk nutrisi tanaman, dan sekam sebagai porous air.

Sebagai tambahan, untuk penggunaan bahan porous bisa menggunakan sekam mentah atau sekam bakar/arang sekam. Kedua bahan tersebut berbeda dalam proses pembuatannya. Sekam bakar merupakan sekam yang sudah melalui proses pembakaran sehingga sekam bakar/arang sekam lebih steril. Selain itu terdapat juga abu sekam, yaitu sekam yang sudah terbakar habis hingga berwujudhanya abu/debu. Meskipun abu sekam dan arang sekam sama-sama memiliki kandungan karbon yang tinggi dibanding sekam mentah, kedua material tersebut memiliki perbedaan yang jelas pada strukturnya. Arang sekam masih mempertahankan wujud sekam mentah sehingga masih memiliki pori yang banyak dan menjadi tempat tinggal mikroorganisme penyubur tanah yang sangat baik. Hal  yang paling utama ketika memulai bercocok tanam adalah menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan kita terlebih dahulu,selama memenuhi prinsip-prinsip dasar tersebut.

  1. Pindahkan Bibit dari Media Penyemaian

Setelah wadah tumbuh diiisi dengan media tanam, keluarkan bibit dari media penyemaian bersamaan dengan media tanam yang sudah terlilit oleh akar. Usahakan agar tanahnya tidak hancur agar tanaman tidak stress. Kebun Akaran menggunakan tray semai untuk wadah penyemaiannya. Cara mengeluarkan bibitnya adalah dengan memijat-mijat diding bagian luar lubang semaian hingga media tanam mulai terlihat longgar, lalu ungkit media tanam dengan menggunakan alat yang berbentuk pipih misalnya, ujung sendok atau stick es krim hingga bibit dan media tanamnya tercabut. Kemudian lubangi media tanam yang ada di pot sedalam batas daun paling bawah agar perakarannya kuat dan tidak mudah tercabut atau rusak. Setelah itu, masukan bibit yang sudah diambil, taruh pada lubang yang ada di media tanam, timbun hingga batas daun paling bawah pada bibit. Cara ini berlaku juga untuk semua jenis tanaman.

Untuk memaksimalkan pertumbuhan, jarak tanam antar tanaman sebaiknya diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan ruang pertumbuhan akar yang ideal dari masing-masing jenis tanaman agar tidak saling berebut nutrisi. Contoh, pot berukuran 20x20cm cukup ditanami oleh 1 tanaman sayuran daun seperti horenzo atau pakcoy, karena batas ideal pertumbuhan akarnya selebar 20-25cm.

Kangkung dan bayam, yang hanya membutuhkan jarak tanam 10cm, dapat ditanam sebanyak 2 buah dalam satu pot berukuran 20-25cm. Kaidah penanaman dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk konsumsi pribadi, jarak antar tanaman tidak terlalu signifikan, namun menjadi syarat penting untuk penanaman skala produks agar pertumbuhan tanaman dapat dioptimalkan.

  1. Perawatan

Tanaman yang sudah berada di wadah tumbuh yang lebih besar sebaiknya disiram setiap 2 kali sehari pada pagi dan sore terutama pada saat musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan, cukup disiram 1 kali sehari pada pagi hari, tetapi jika ada beberapa hari pada musim hujan yang tidak turun hujan maka siramlah 2 kali sehari pada pagi dan sore. POC atau Pupuk Organik Cair dapat ditambahkan untuk menambah nutrisi pada media tanam. POC juga bermanfaat sebagai penghalau hama dengan cara disemprotkan pada bagian bawah daun. POC bisa dibeli di toko-toko pertanian atau dibuat sendiri.

Media tanam cocopeat sebaiknya diganti setelah 6 bulan pemakaian karena nutrisinya sudah mulai habis. Usia pemakaian media tanam dapat ditambah dengan cara menjaga nutrisi di media tanam tersebut menggunakan mulsa hijauan. Mulsa hijaun merupakan pelapis media tanam agar tidak terlalu terpapar oleh matahari sehingga kelembaban media tanam bisa terjaga. Mulsa hijauan bisa kita buat sendiri menggunakan rumput-rumputan yang dicacah atau potongan-potongan kecil sisa sayur. Mulsa tersebut kemudian ditaburi di atas media tanam setebal kurang lebih 1 cm. Mulsa tersebut nantinya akan membusuk dan menjadi kompos, sehingga terjadi perputaran nutrisi pada media tanam. Selain itu, mulsa hijauan juga berfungsi untuk memperbaiki struktur media tanam. Untuk tambahan, kita juga bisa menambahkan cacahan cangkang telur yang memiliki kandungan K (potassium). Unsur tersebut akan terlepas secara perlahan sehingga bisa diserap oleh tanaman dengan kadar secukupnya.  Unsur yang dosisnya terlalu banyak dan terlepas terlalu cepat akan menjadi residu dan hanyut terbawa air yang keluar dari wadah tumbuh.

Tips Pindah Tanam dari Pot atau Polybag

Tips ini bertujuan agar pot atau polybag tidak dirusak/rusak ketika mengeluarkan bibit, sehingga bisa digunakan kembali.

  1. Siapkan pot yang berisi bibit siap pindah.
  2. Selipkan tanaman bagian bawah (bagian terkuat yang muncul diatas tanah) diantara jari telunjuk dan jari tengah,
  3. Balikan pot atau polybag sembari ditahan oleh tangan yang terselip bibit.
  4. Ketuk-ketuk bagian bawah pot/polybag dan sedikit diremas pada bagian samping pot/polybag,
  5. Lalu angkat pot perlahan sembari sedikit digoyang-goyang agar media tanam terlepas secara utuh. Tahan bibit yang terlepas dengan tangan yang menjepit bibit.
  6. Setelah itu, siapkan media tumbuh (pot, polybag, raised bed) yang lebih besar. Isi dengan bahan porous sebanyak ¼ pot, lalu tambahkan media tanam hingga penuh. Lubangi media tanam sebesar bibit yang akan dipindahkan sampai batas daun paling bawah. Masukan tanamannya pada lubang yang sudah disiapkan lalu timbun kembali hingga batas daun terbawah.
  7. Siram sebanyak 2 kali sehari, pagi dan sore. Tambahkan pupuk organik cair jika diperlukan.

Faktor Keputusan Tingkat Kematangan Tanaman

Tahapan selanjutnya setelah pindah tanam adalah proses panen. Proses panen tentunya harus memenuhi prinsip-prinsip kematangan tanaman. Kematangan tanaman bisa dilihat dari segi fisiologis dan dari segi komersil. Kematangan fisiologis adalah kondisi tanaman yang memang sudah tumbuh secara baik dan maksimal sehingga siap dipanen. Sedangkan matang secara komersil adalah keputusan konsumsi dari sebuah tanaman yang bukan didasarkan pada usia matang namun berdasarkan keputusan kapan tanaman bisa dimakan, semisal microgreens. Hal itu juga menjadi kelebihan dari tanaman sayuran daun yang tidak memiliki batasan usia tumbuh untuk bisa dikonsumsi. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan kami bahas pada artikel tentang panen.

Semoga ulasan NGERUK ini dapat menginspirasi untuk berkebun selama #dirumahaja. Selamat mencoba, nikmati prosesnya. Jangan lupa bagikan cerita pengalaman berkebun anda ke Instagram Komunitas 1000Kebun. Selamat Berkebun!

Penulis: Fathan Abdillah | Editor: Edo Sistanto | Foto: Kebun Akaran, Fathan Abdillah, Senja Pagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *