1000Inspirasi

Jelajah Kebun: Kebun Organik di Kaki Gunung

Pada tanggal 24 Oktober 2017 pukul 07.00 WIB, saya memacu motor ke daerah Tubagus Ismail. Ke rumah Ila, salah satu kenalan dari Komunitas 1000Kebun. Hari itu, saya dengan beberapa teman akan melakukan perjalanan ke sebuah perkebunan sayuran di pinggiran Bandung Raya. Tepatnya di daerah Cijapati, Cikancung, Kabupaten Bandung. Kami berangkat pukul 09.00 WIB, setelah menunggu beberapa kawan yang akan ikut serta. Salah satunya adalah Franco, aktivis kerelawanan asal Italia. Ia menyatakan antusiasnya untuk melihat pertanian di Indonesia, terutama yang menerapkan sistem organik. Turut menyertai Franco adalah Tommy dan Gunawan, yang mengelola pertanian organik di wilayah Batulonceng. Mereka berniat untuk studi banding pengelolaan pertanian organik, untuk kemudian diterapkan di kebun mereka.

Rombongan Tiba di Lokasi
Rombongan Tiba di Lokasi

Setelah menempuh kira-kira 1,5 jam perjalanan dari Tubagus Ismail, kami pun tiba di lokasi kebun yang dituju. Kebun Al-Musthafa, demikian nama yang disematkan pada kebun yang terletak di kaki Gunung Mandalawangi tersebut. Nama ini terkait dengan Pesantren Al-Musthafa, yang juga berada di areal yang sama. Kebun dan pesantren ini berdiri di lahan wakaf yang awalnya dikelola dan digarap oleh Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung. Nama Al-Musthafa dipilih karena terilhami oleh dakwah Rasulullah yang menjadi rahmat bagi alam semesta.

Mobil yang membawa rombongan berhenti di depan sebuah rumah panggung. Rupa-rupanya, banyak juga peserta yang ikut di acara tersebut. Ada sekitar 5-6 mobil rombongan lainnya, yang berangkat dari Ciwastra. Kami pun disambut Pak Cecep. Beliau adalah pengelola kebun Al-Musthafa. Bersama beberapa penjaga kebun, beliau bertanggung jawab mengelola operasional keseharian, mulai dari menanam, merawat dan memanen komoditas yang ditanam.

Setelah sambutan singkat, kami segera menggelar lapak untuk makan siang. Daun pisang dihamparkan, nasi ditaburkan, dan lauk pauk pun disajikan. Tak lupa sayuran segar sebagai lalapan, dan sambal ulek yang menambah cita rasa.

Bedengan yang Ditumbuhi Macam Sayur-sayuran

Tuntas mengisi perut dan menunaikan ibadah wajib, kami pun melanjutkan tur kebun. Pak Cecep berperan sebagai pemandu, menjelaskan beragam serba-serbi di kebun Al-Musthafa. Lokasi pertama yang ditunjukkan adalah beberapa petak bedengan di depan rumah panggung tempat makan siang kami. Bedengan tersebut ditanami berbagai sayuran daun, seperti kangkung, selada keriting, lollorosa dan lain sebagainya. Terdapat juga bedengan yang dinaungi struktur bambu berlapis paranet. Fungsinya adalah menaungi bibit-bibit yang baru disemai.

Bedengan yang Ditumbuhi Macam Sayur-sayuran

Tujuan selanjutnya adalah sebuah rumah panggung yang terletak sekitar 100 meter ke arah utara dari tempat berkumpul. Menurut Pak Cecep, rumah tersebut sempat difungsikan sebagai tempat menginap para santri, namun dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian. Di depan rumah tersebut, terhampar bedengan-bedengan yang ditanami berbagai sayuran. Warna hijau dan merah dari daun selada dan bayam merah memberikan semburat cerah, kontras dengan warna coklat tua dari tanah. Tidak jauh dari rumah panggung tersebut, berdiri sebuah kandang sapi. Sekitar 15 ekor sapi mendiami kandang tersebut. Secara rutin, para penjaga kandang membersihkan kotoran sapi dan membawanya menuju tempat penampungan, untuk kemudian diolah menjadi pupuk kandang. Di sekitar lahan, berbagai jenis pepohonan tumbuh dengan subur. Melinjo, nangka, pepaya, dan pohon-pohon lainnya. Sebagai latar belakang, bentangan perbukitan menjulang tinggi bagaikan tembok benteng.

Kami pun kembali ke rumah panggung yang menjadi titik berkumpul. Kali ini, kami bergerak menuju kebun mentimun dan labu. Lokasinya berada di belakang rumah panggung, yang juga digunakan sebagai musholla. Tanaman mentimun tumbuh dengan subur menjalari tongkat penopang, begitu pula dengan labu yang sulur-sulurnya merambah atap naungan.

Rumah Panggung Tempat Penyimpanan Peralatan Bertani
Labu yang Tumbuh Subur dan Menggiurkan

Sekitar pukul 14.00 WIB, Pak Cecep mengarahkan rombongan untuk memanen sayur-sayuran. Tak ayal, beberapa anggota tur pun bersemangat untuk memetik, kangkung, selada dan lain sebagainya. Menurut Pak Cecep, kebun Al-Musthafa telah mendistribusikan sayurannya ke beberapa pelanggan, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual kembali. Sayuran yang sudah dipanen lalu dibersihkan terlebih dahulu. Daun-daun yang sudah menguning dipisahkan. Proses ini dilakukan di bawah rumah panggung, yang juga menampung sejumlah kebutuhan kebun.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Mayoritas peserta pun segera beranjak diri ke tempat tinggal masing-masing. Adapun saya, Ila dan beberapa kawan lainnya tetap tinggal untuk berbincang dengan Pak Cecep. Pak Cecep telah menyajikan nangka yang dipanen dari pohon sekitar kebun. Kami mencoba nangka tersebut. Rasanya manis agak kesat. Rupa-rupanya, Franco sangat antusias memakan nangka. Baginya, buah nangka merupakan hal yang asing, yang tidak ditemui di Italia. Setelah cukup lama beramah tamah, akhirnya kami berpamitan dengan Pak Cecep, untuk kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja, setelah mengambil beberapa gambar suasana perbukitan yang melingkupi kebun Al-Musthafa. Bukit yang ditumbuhi pohon pinus, serta digarap oleh warga sekitar. Pemandangan yang membuat saya terkesan. Tak dinyana, masih ada bentangan alam indah tak jauh dari Kota Bandung, yang digempur pembangunan gila-gilaan. Ah, semoga keindahan dan kekayaan alam ini tetap lestari, sehingga bisa dinikmati generasi mendatang.

Pemandangan di Sekitar Kebun Al-Musthafa

Tulisan dan Foto oleh Aquinaldo Sistanto

1 Komentar

  1. Luar biasa. Penggiat Kebun Organik. Salam organik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *