1000Inspirasi

Ngeruk: Berkebun Organik di Negeri Paman Sam

Untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja, Komunitas 1000Kebun mengadakan NGERUK: Ngebon Seru, Yuk! virtual melalui Instagram LIVE. Para pegiat komunitas dan berbagai narasumber secara langsung bercerita aktivitasnya, serta berbagi tips berkebun. Artikel ini merupakan ulasan dari NGERUK Virtual Komunitas 1000Kebun bersama Haiqal’s Garden. Yang menjadi pengisi materi pada sesi NGERUK kali ini adalah Pak Syarif Syaifulloh, Founder Haiqal’s Garden di Philadelphia, serta dipandu oleh Vania Febryantie (Tim Pengurus Komunitas 1000Kebun).

Semangat berkebun organik rupanya dapat ditemui hampir di seluruh belahan dunia. Salah satunya adalah Haiqal’s Garden. Kebun organik di halaman rumah ini dikelola oleh Pak Syarif, seorang diaspora yang saat ini tinggal di Philadelphia, Amerika Serikat. Tim 1000Kebun mendapatkan info-info menarik seputar berkebun di Negeri Paman Sam, dalam sesi Ngeruk Online 14 Mei 2020.

Haiqal’s Garden diinisiasi oleh Pak Syarif sekitar 10 tahun lalu. Nama Haiqal sendiri diambil dari nama salah satu Putra Pak Syarif. Awalnya, Pak Syarif menanam berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan dapur. Lama kelamaan, rutinitas berkebun Pak Syarif menarik perhatian masyarakat sekitar. Pak Syarif pun mulai mengadakan pelatihan berkebun secara berkala. Pesertanya beragam, mulai dari siswa sekolah, mahasiswa hingga komunitas setempat.

Berkebun sayuran di negara empat musim memerlukan cara dan sistem berkebun yang berbeda dengan berkebun di negara tropis. Sayuran yang ditanam merupakan jenis yang mampu tumbuh dengan baik di wilayah empat musim. Pada sesi Ngeruk Online kali ini, Pak Syarif menunjukkan penanaman caisim dan sawi. Pemilihan waktu menanam menjadi kunci penting yang memengaruhi kesuksesan pertumbuhan sayuran yang ditanam. Pak Syarif biasanya mulai menanam pada bulan April, yaitu pada musim semi. Walaupun demikian, tahapan berkebun sudah dimulai pada beberapa bulan sebelumnya. Pak Syarif menumbuhkan benih-benih sayuran di dalam rumah, sehingga terlindung dari cuaca ganas musim dingin. Ketika awal musim semi, Pak Syarif juga menumbuhkan benih yang langsung disebarkan di tanah. Dalam sekali proses pembenihan, dihasilkan sampai 600 bibit tanaman. Bibit yang sudah tumbuh lalu dipindahtanamkan pada musim semi. Risiko yang mengintai adalah cuaca musim semi yang memburuk (turun salju), sehingga mematikan bibit yang ditanam.

Bibit yang sudah tumbuh selama 2 minggu lalu dipindahtanamkan ke titik tanam. Setiap bibit ditanam dengan jarak 1 jengkal. Bibit yang ditanam di tanah diambil dengan sekop lalu dipisahkan dengan saksama, agar tanah yang melingkupi akarnya tidak hancur. Bibit lalu ditanam ke dalam lubang dengan kedalaman sekitar 6 cm. Bibit yang sudah ditanam lalu disiram agar tidak kekurangan air. Tidak hanya di lahan tanah, ada juga bibit juga ditanam di pot. Waktu penanaman bibit dapat dilakukan pagi maupun sore hari. Setelah ditanam, bibit memiliki waktu adaptasi selama sekitar 7 jam. Penanaman di pagi hari sebaiknya dilakukan sebelum jam 9 pagi, agar bibit tidak terpapar sinar matahari siang yang terlalu panas. Hal ini akan menyebabkan bibit menjadi layu.

Pemeliharaan kebun sayuran juga perlu menggunakan metode-metode tertentu. Penyiraman disarankan menggunakan alat penyiram. Dalam proses penyiraman, jumlah air perlu diperhatikan agar tanah tidak terlalu lembab. Salah satu caranya adalah menyiram dengan jarak minimal 1 meter dari bibit. Metode ini terutama digunakan untuk bibit yang baru bertunas.

Water Harvesting

Pak Syarif juga menggunakan pupuk untuk memberikan nutrisi bagi tanaman di kebunnya. Pupuk kandang awalnya digunakan sebagai sumber nutrisi, namun pasokannya tergolong sulit diperoleh. Pak Syarif akhirnya beralih menggunakan pupuk kompos buatan sendiri. Bahan-bahannya antara lain sampah rumah tangga dan limbah organik sisa kebun. Bahan-bahan kompos dimasukkan ke dalam tong pengolahan kompos, lalu didiamkan selama 1 tahun. Kompos yang membusuk lalu dilapisi tanah agar tidak diserbu hama.

Serangan hama menjadi ancaman yang lazim ditemui di Haiqal’s Garden. Penanganannya menggunakan cara organik alias tanpa pestisida. Bila ada bagian tanaman yang terkena serangan hama, Pak Syarif akan memotongnya secara manual. Hama yang umum ditemui antara lain kutu daun, kutu kebul dan lain sebagainya.

Haiqal’s Garden memiliki instalasi pemanenan air hujan berupa tong-tong besar, yang terhubung dengan talang air hujan. Metode ini menghemat penggunaan air untuk penyiraman tanaman. Menariknya, Haiqal’s Garden juga menggunakan bahan-bahan bekas untuk membangun kebunnya. Menurut penuturan Pak Syarif, bahan-bahan yang digunakan antara lain bata dan kayu bekas pembangunan rumah. Untuk mempercantik kebunnya, Pak Syarif memasang CD bekas yang dipasang di kebun organiknya.

Ide berkebun ala Pak Syarif bisa menjadi sumber inspirasi bagi para urban farmers. Pengalaman berkebun di negara empat musim dapat menjadi pengkayaan wawasan yang menarik dalam khazanah urban farming.

Semoga ulasan NGERUK ini dapat menginspirasi untuk berkebun selama #dirumahaja. Selamat mencoba, nikmati prosesnya. Jangan lupa bagikan cerita pengalaman berkebun anda ke Instagram Komunitas 1000Kebun. Selamat Berkebun!

Penulis: Edo Sistanto | Foto: Haiqal’s Garden

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *