1000Agenda 1000Inspirasi 1000Kabar

Urban Farming untuk Kemandirian Pangan – Catatan NgeRuk!: Instagram Live

“Intinya lakukan apapun yang kalian bisa dari hal-hal kecil, mulai berkebun, membeli produk lokal, hidupkan lagi pasar lokal. Sadari kita hidup berkomunitas, solusi didapat dari situ”.

Angga Dwiartama

Ngebun Seru Yuk (NgeRuk!) Instagram Live: Urban Farming Untuk Kemandirian Pangan adalah salah satu kegiatan Komunitas 1000Kebun untuk berdiskusi dan saling berbagi ilmu dengan para pegiat komunitas, baik petani, praktisi, akademisi, dan berbagai pihak-pihak terkait. Pada NgeRuk Instagram Live kali ini kami berkesempatan diskusi bersama Bapak Angga Dwiartama, salah satu pegiat komunitas yang juga seorang dosen dan peneliti di SITH ITB. Dipandu oleh Galih Raditya, yaitu Ketua Komunitas 1000Kebun dan juga Founder Kebun Akaran – Co Founder Komunitas 1000Kebun.

Diskusi kali ini akan membawa topik pembahasan mengenai Urban Farming dan Kemandirian Pangan. Munculnya pandemi COVID-19 tanpa disadari memunculkan suatu fenomena baru di Indonesia, yaitu meningkatnya aktivitas berkebun yang dilakukan di rumah khususnya masyarakat perkotaan. Sebelumnya sebagian besar masyarakat yang menghasilkan pangan berada di pedesaan, sehingga dengan masyarakat perkotaan yang mulai melakukan berkebun ini menuju kepada kemandirian pangan. Hadirnya fenomena berkebun bisa dibilang membawa dampak bagi sebagian orang, salah satu dampak yang dirasakan oleh salah satu petani di Lembang yaitu naiknya harga bibit tanaman karena meningkatnya permintaan. Tetapi dapat dikatakan bahwa fenomena berkebun di masa pandemi bukan berarti sesuatu yang membawa dampak negatif, hal ini tidak dapat dipukul rata karena konteks berkebun di kota dan di desa sangatlah berbeda terlebih lagi produksi yang berada di desa pun tidak berpengaruh dengan meningkatnya kegiatan berkebun di kota.

Kehadiran fenomena berkebun di kota atau urban farming bisa dibilang memungkinkan menjadi salah satu cara untuk mandiri pangan, yang harus diperhatikan adalah konteks masyarakatnya, ketersediaan lahan, kesibukan-kesibukannya dan lainnya. Seperti halnya urban farming di Tuban yang dilakukan akibat embargo yang mengharuskan masyarakat mandiri dalam hal memenuhi kebutuhan salah satunya adalah pangan. Selain itu yang harus di garis bawahi bahwasanya kemandirian pangan bukan hanya mengenai ketersediaan pangan tetapi bagaimana dengan pangan kita dapat bertahan. Urban farming selain menghasilkan pangan sebenarnya juga bisa dilihat secara lebih luas, yaitu bila dilihat dari kaca mata sosial urban farming bisa menjadi media masyarakat modern yang cenderung individualis untuk berkumpul dan bercengkrama dengan orang lain dalam suatu komunitas tertentu. Contohnya di Negara Italia dimana pangan ataupun proses pembuatan pangan dijadikan sebagai media masyarakat untuk ketahanan sosial, bukan lagi perihal pangan untuk bertahan hidup. Sehingga bentuk pertahanan di masyarakat dapat berbeda di setiap daerah, yaitu ada daerah yang fokus melakukan urban farming untuk mendapatkan pangan, tetapi ada juga yang melakukan urban farming sebagai rekreasi dan kerekatan.

Di Indonesia sendiri urban farming bisa dikatakan belum berhasil secara sempurna karena mengalami kendala di konsistensi masyarakat itu sendiri. Karena urban farming bukan hanya tentang berkebun tetapi juga menjadi media, yaitu salah satunya yang penting adalah membangun kebersamaan. Keberhasilan urban farming dapat terbangun dengan membangun struktur yang kuat, yaitu dibutuhkannya peran anak muda (aktif, kreatif, inovatif, dan relasi yang kuat) dan peran orang-orang senior (membangun kestabilan dalam proses) karena kedua point ini dapat membangun struktur. Selain itu faktor ekonomi-pendidikan juga, serta karakteristik dan tujuan dari masyarakat itu sendiri sangat berpengaruh. Peran urban farming sendiri untuk masyarakat terdampak COVID-19 ini selain sebagai kegiatan baru untuk mengurangi stress akibat berdiam diri di rumah ataupun di phk dan kehilangan pekerjaan, masyarakat yang melakukan urban farming juga dapat menghasilkan pangan yang sehat untuknya. Selain itu juga mereka dapat menyalurkan hasil pangannya ke orang yang lebih membutuhkan atau dapat dijual untuk meningkatkan perekonomian.

Sesi tanya jawab :

  1. Peran urban farming bisa menolong masyarakat yang terdampak ekonomi ? Ya, urban farming bisa berkontribusi dengan syarat yang berlaku. Urban farming bisa menjadi salah satu membangun ekonomi lokal, dapat dibangun melalui sistem individu dan komunal.
  2. Bagaimana langkah yang dilakukan bagi orang yang ingin berkebun namun mengalami kesulitan dalam mengakses pangan tetapi secara fisik mampu? Buka wawasan, ada banyak berbagai cara untuk berkebun. Kuncinya yaitu gunakan sumber manapun, berkomunitas juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Berkebun lebih kuat di seni dibandingan sains.
  3. Bagaimana dengan konsep CSA di Indonesia? CSA bentuk pertanian, petani didukung kelompok konsumen (koperasi konsumen). Manfaatnya membantu petani, resiko ditanggung bersama, berbasis kepercayaan. Di setiap negara memiliki konsep yang berbeda-beda, CSA di Indonesia memang sudah ada tetapi untuk levelnya belum berkembang seperti di berbagai negara lainnya.
  4. Apa saja kiat-kiat untuk komunitas agar terkelola dengan baik? Kunci komunitas terkelola dengan baik dan berdampak bagi komunitas maupun masyarakat sekitar, pahami sesuai konteks lokal, bangun terlebih dahulu kemistrinya, biarkan mengalir dengan sendirinya. Sistemnya kaya bertani kita semai terlebih dahulu sisanya biarkan bibit itu tumbuh dengan sendirinya, nikmati prosesnya.

Penulis: Havilah Aprilia (Social Garden) Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *