1000Inspirasi 1000Kabar

Kebun Komunal: Langkah Menuju Masyarakat Berkelanjutan?

Ketika kebun komunal tumbuh di perkotaan, keberagaman yang timbul akan memberikan hubungan antara konsumen dengan petani yang lebih seimbang dan lebih adil. Perilaku konsumsi orang kota umumnya sudah over konsumsi, pangan yang kita beli kemungkinan 60-70% berujung ditempat sampah. Ketika orang-orang kota mulai punya kesadaran tentang pangan, lingkungan, serta perilaku konsumsi mereka, maka sebenarnya beban orang-orang yang saat ini menyediakan pangan untuk kita berkurang, jadi mereka punya waktu lebih untuk memikirkan mereka sendiri.

Misbah Dwiyanto

Artikel ini merupakan catatan dari Diskusi Online (DiOn) Komunitas 1000Kebun yang dilaksanakan di grup komunitas pada Sabtu, 24 Oktober 2020. Diskusi ini di moderator oleh Sania Rafi (Social Garden) dan narasumber Misbah Dwiyanto (Kebun Belakang).

Moderator:

Assalamualaikum, Shalom, Om Swastastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan untuk kita semua. Selamat malam, perkenalkan nama saya Sania dari Jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya Malang. Disini saya berperan sebagai moderator yang akan memandu jalannya diskusi mengenai “Kebun Komunal: Langkah Menuju Masyarakat Berkelanjutan?”. Diskusi kali ini akan diisi oleh Kang Misbah dari Kebun Belakang. Pada diskusi hari ini kami berharapkan dapat terciptanya diskusi dua arah antara pemateri dan juga peserta diskusi nantinya. Tanpa menunggu lama, kita sambut Kang Misbah dari Kebun Belakang.

Kang Misbah:

Terima kasih Sania. Perkenalkan nama saya Misbah. Saya petani full time di Kebun Belakang, Kota Cimahi. Kebun belakang adalah kebun permakultur dan juga tempat tinggal saya dan keluarga. Pada kesempatan ini, saya akan bercerita sedikit mengenai kebun komunal. Kebun komunal adalah sebuah ruang dimana orang bersama-sama memanfaatkan untuk bercocok tanam, dengan tujuan kesehatan, menciptakan lingkungan yang lebih sehat, mendukung proses pembelajaran yang berkelanjutan, serta menciptakan komunitas yang aktif. Kebun belakang mencoba membangun hal-hal yang mencakup kebun komunal, tidak melulu masalah aktivitas berkebun atau tentang pangan saja. Terkait manfaat kebun komunal, karena ini aktivitas kolektif dan ada kegiatan fisiknya, maka yang paling jelas terlihat adalah adanya interaksi sosial, mereka bertemu atas dasar kebutuhan untuk saling terhubung, kebun komunal biasanya fokus pada pemeliharaan tempat tinggal, lebih condong ke pertanian organik, menghindari pestisida, kemudian manfaat selanjutnya bisa mengurangi tingkat stress. Selain itu di bidang ekonomi juga ada manfatanya, ketika hasil panen sudah ada, mereka dapat menghemat karena mendapatkan input pangan yang tidak harus mereka beli. Kebun komunal sebenarnya sudah ada dari zaman dulu, di abad-19 masyarakat Eropa menyediakan kotak-kotak tanah di daerah urban untuk orang miskin supaya bisa mengatasi pangan, mereka diberi lahan dengan harga sewa yang murah, supaya mereka dapat memenuhi pangannya sendiri, dan sampai sekarang sebenarnya aktivitas tersebut masih ada. Kebun komunal juga muncul saat perang dunia II, ada nama istilahnya yaitu “Victory Garden”. Pada saat itu distribusi pangan terhambat, sehingga warga dihimbau untuk bisa menanam makaanannya sendiri, dan itu juga suatu propaganda untuk bisa menjaga moral masyarakatnya. Saat ini juga, kebun komunal menjadi simbol pergerakan, misal di lahan terbengkalai mereka coba rawat dan jadikan kebun, dan melibatkan orang sekitar untuk bisa terlibat, dan pada akhirnya kegiatan berkebun menjadi lebih luas lagi. Misal, masalah-masalah komunitas juga dibahas, sehingga lebih banyak kegiatan yang dilakukan bersama, mencoba menumbuhkan rasa bangga terhadap komunitasnya, yang memunculkan aktivitas yang lebih produktif.

Di Indonesia sendiri, di konteks perkotaan kebun komunal ini bisa dibilang baru. Tapi untuk masyarakat tradisional sudah lama, misal di desa masyarakat bersama-sama menggarapnya, dan hasil dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan mereka sendiri. Di perkotaan, kebun komunal yang memang muncul itu tidak muncul dari keinginan masyarakatnya, tapi kebanyakan dari program-program yang digagas pemerintah kota, yang terlalu memaksakan, tetapi ada beberapa komunitas yang berhasil karena inisiatif sendiri, dan semakin kompak. Ini juga yang kebun belakang sedang coba, ingin lebih inklusif dan merangkul orang-orang untuk bisa terlibat dengan media berkebun agar orang-orang bisa saling berinteraki satu sama lain. Orang yang berasal dari beragam latar belakang, dan mudah-mudahan kedepannya bisa mencapai aktivitas yang bisa lebih memberikan manfaat yang baik bagi sekitar. Judul diskusi ini menjadi menarik, karena sebenarnya bisa gak sih dari kita, kegiatan bareng-bareng ini bisa menciptakan masyarakat yang berkesadaran dengan lingkungannya, dan perilaku terhadap ligkungan sekitarnya, dan sebenarnya menurut teman-teman, realistis gak kebun komunal bisa menciptakan gaya hidup yang lebih berkelanjutan?

Moderator:

Sangat menarik penjelasan dari Kang Misbah mengenai kebun komunal ini. Saya yakin teman-teman semua pada penasaran, untuk menjawab semua rasa perasaan teman-teman kali ini sudah masuk sesi tanya jawab. Bagi teman-teman yang punya pertanyaan atau yang mau mencoba menjawab pertanyaan Kang Misbah boleh banget nih.

Penanya 1 (Ahmad Suherman – Subang, Jawa Barat):

Mendengar paparan dari Kang Misbah tentang kebun komunal sebenarnya sangat menarik, dan saya pun sebenarnya memiliki bayangan tentang hal tersebut tetapi belum mengetahui, lebih jauhnya yang saya tahu hanya konsep tanamlah apa yang kita makan, makanlah apa yang kita tanam. Tetapi pengalaman saya disini, mayoritas warga disini kurang tertarik dengan sistem menanam secara organik. Ketika memang dibangun sebuah komunitas tetapi menggunakan pupuk berbahan kimia bagaimana menurut Kang Misbah? Atau kita harus membangun pasar kita sendiri atau bagaimana? Karena kebanyakan disini begitu kang, padahal kesuburan tanah sudah keras seperti batu.

Penanya 2 (Mentari – Bandung ):

Kang saya penasaran, interaksi seperti apa yang diharapkan dan ditargetkan dari kebun komunal ini, khususnya apa yang sedang Kebun Belakang lakukan? Soalnya kebayang akan berkumpul orang-orang dari segala penjuru dan karakter, perlu ada sosok fasilitator kah yang mengarahkan interaksi seperti apa yang akan berlangsung? Dan setelah kemarin mengadakan aktivitas kebun komunal, hal menarik apa yang mengesankan?

Penanya 3 (Ika – Bogor):

Bagaimana cara kita mengajak masyarakat (orang lain) untuk lebih peduli terhadap gaya hidup yang gemar menanam dan hidup yang berkelanjutan lebih peduli terhadap sampah hasil dapur yang bisa dikompos agar mengurangi sampah dapur yang berakhir di TPA? Tentunya kalau kita menanam, kompos itu bisa kita manfaatkan untuk tanaman kita.

Kang Misbah:

Untuk Ahmad Suherman, berangsur-angsur akan mulai tumbuh kesadaran terhadap lingkungan, ketika mereka sadar bahwa membeli pupuk lebih mahal dibanding dengan produksi sendiri, kemudian penggunaan pestisida bisa merusak tanah, maka perlahan-lahan mereka mencari alternatif yang lebih mudah, lebih murah, dan akan menciptakan aktivitas yang baru, seperti membuat pupuk bersama. Sebenarnya untuk awal sudah mau menciptakan kebun komunal itu sudah baik.

Untuk Mentari, interaksi yang diharapkan dari kebun komunal ini, khususnya yg sedang kebun belakang lakukan, sebenarnya banyak yang diharapkan, tidak hanya aktivitas berkebun saja, tapi masing-masing orang dengan latar belakang yang berbeda-beda bisa bertukar pikiran, gagasan, atau curhat, dan nantinya bisa diharapkan dari ngobrol-ngobrol itu bisa berubah menjadi sebuah aksi. Sosok fasilitator disini sebenarnya ingin natural saja, yang kami coba lakukan hanya mengumpulkan saja, dan nantinya kebun juga akan diserahkan ke orang-orangnya, mau ditanam apa.

Untuk Ika, untuk masyarakat kota harus pelan-pelan, karena memang kompleks. Di kota itu ada yang sudah tereskspos informasi yang banyak jadi mereka sudah sadar akan hal itu, dan ada juga yang kurang informasi, jadi mereka masih kurang peduli, sehingga kita harus sabar, dan kebun komunal ini sebenarnya untuk mensosialisasikan itu, ketika orang sudah berkumpul dan berkebun, dan mereka sudah membicarakan tentang lingkungan, konsumsi, tanggung jawab akan barang-barang yang kita buang, maka kesadaran itu akan muncul sendiri, tidak bisa dipaksakan. Kesadaran harus muncul dari orangnya, yang bisa kita lakukan hanya memberi contoh, dengan harapan mereka bisa mengikuti.

Suharman:

Ada tips atau cara dari Kang Misbah untuk kita bisa membuat sebuah situasi atau atmosfer agar dapat membangun sebuah komunal tersebut?

Kang Misbah:

Atmosfir paling baik dan nyaman yaitu ketika orang-orang pada awalnya sudah punya interest yang sama, kemudian kita coba melibatkan semua pihak dari orang itu, misal keluarga, anak-anak, kita membuat aktivitas dulu untuk mereka, menciptakan aktivitas baru, tidak melulu tentang berkebun, tetapi bisa memberi skill baru untuk anak-anaknya, ketika sudah kompak baru kemudian bisa mulai mencoba ajak hal yang lain. Itu strategi yang ingin saya coba lakukan, karena kalau belum kompak nanti kebun komunalnya juga tidak akan brjalan lama. Dari kebun komunal sebenarnya yang dicari interestnya mngenai berkebun dulu, setelah itu akan nyambung ke yang lain.

Suharman:

Sebenarnya saya ingin tahu perjalanan Kang Misbah dalam membangun sebuah kebun komunal, kebun belakang yah namanya, itu bagaimana? Suka dukanya dan tantangan terbesarnya apa?

Kang Misbah:

Kebun komunal sebenarnya baru mulai, sehingga belum banyak yg bisa diceritakan. Tapi mengenai kebun belakang, baru dimulai tahun 2015. Pada awalnya hanya untuk aktivitas keluarga, hanya untuk tempat tinggal kita, dan tidak terbuka untuk umum. Tapi kita sudah mulai bisnis dengan mengolah hasil kebun itu, setahun kemudian ketika org-orang sudah mulai tau, karena kita membuat instagramnya, mereka mulai penasaran kenapa ingin jadi petani, dari situ kita mulai berpikir sepertinya sudah waktunya, membuka sudut pandang baru untuk hidup yang lebih sederhana. Pelan-pelan mulai terbuka, mulai ada volunteer, kita mulai bikin kunjungan, kolaborasi dgn petani organik lain atau komunitas, salah satunya dengan komunitas 1000Kebun, membuat pasar sehat. Yang pasti tidak melulu tentang bisnis, kita mengajak orang yang memiliki minat sama.

Penanya 4 (Dean T.):

Apakah dengan aktivitas berkebun yang dilakukan di komunitas akan mengakibatkan petani sesungguhnya menjadi rawan terhadap hasil panen mereka, karena ada kekhawatiran beberapa petani akan hal itu terutama dampak serapan hasil panan di pasar-pasar?

Kang Misbah:

Ketika kebun komunal tumbuh di kota-kota, semakin banyak muncul dengan skala yang beragam, sebenarnya setidaknya akan memberi hubungan antara konsumen dengan petani jadi lebih seimbang dan lebih adil. Perilaku konsumsi orang kota sebenarnya sudah dibilang over konsumsi, pangan yang kita beli mungkin 60-70% berujung ditempat sampah. Ketika orang-orang kota mulai punya kesadaran tentang pangan dan lingkungan, tentang perilaku konsumsi mereka, maka sebenarnya beban orang-orang yang saat ini menyediakan pangan untuk kita berkurang, jadi mereka punya waktu lebih untuk memikirkan mereka sendiri.

Moderator:

Kalau sudah tidak ada tanggapan, untuk sesi tanya jawab ditutup. Tadi kita sudah diskusi dengan Kang Misbah tentang kebun komunal dan sebagainya. Saya dengar-dengar komunitas 1000Kebun dan juga Kebun Belakang sedang membuat program kebun komunal, mungkin bisa diceritakan?

Kang Misbah:

Gagasan kebun komunal ini muncul saat orang banyak yang mulai berkebun di rumah. Tapi saya pikir ini nantinya tidak akan jauh beda dengan “Victory Garden”. Ketika pandemi selesai kemungkinan besar kebiasaan berkebun itu hilang lagi, dari kebun komunal sebenarnya ingin membawa aktivitas baru menjadi sebuah gerakan, yang diharapkan bisa berjalan terus meskipun pandemi usai. Karena ketika kita balik lagi dengan kebiasaan sebelum pandemi, eksploitasi alam, konsumsi berlebih, maka penyakit-penyakit seperti ini akan muncul kembali. Aktivitas kebun komunal ini diadakan 1x seminggu, saat ini sudah ada 20 orang yang ingin aktif untuk terlibat, jadi tiap minggunya bergantian dibatasi dulu 5 orang agar tetap bisa nyaman berkebun. Orang-orang yang terlibat datang dari semua penjuru Kota Bandung dan masing-masing juga punya latar yang beragam.

Moderator:

Tidak terasa sudah di penghujung acara, banyak ilmu yang kita dapat malam ini, semoga menjadi manfaat tersendiri. Sebelum ditutup diskusi malam ini, mungkin dari Kang Misbah bisa menyampaikan closing statement.

Kang Misbah:

Kota punya banyak potensi, manusianya tentu beragam dan beragam juga keahliannya. Sebenarnya, kita semua mampu mandiri akan pangannya dengan menciptakan komunitas-komunitas lokal yang solid.

Moderator:

Terima kasih banyak untuk Kang Misbah atas ilmu yang diberikan, ternyata teman-teman, semua kebun komunal bukan hanya sebagai ruang untuk bercocok tanam, tetapi ada kaitannya juga dengan sisi sosial, yaitu adanya interaksi dari aktivitas kolektif atas dasar kebutuhan untuk saling terhubung. Bisa dibilang faktor penting dalam keberhasilan dari kebun komunal sendiri adalah rasa saling keterikatan dalam anggota kelompok itu sendiri dan bonusnya adalah hasil kebun itu sendiri. Selain itu, adanya interaksi sosial ini bisa dijadikan ajang bertukar pikiran juga. Rasanya itu udah paket komplit ya. Terimakasih teman-teman yang sudah berpartisipasi pada diskusi malam ini.

Penulis

Salsabila Lifa Aprilianti (Social Garden), Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Politik – Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *