Seni Tani Tani Bestari

Panen: Perayaan Pangan Mandiri Tani Bestari

Akhirnya Tani Bestari Panen Raya! Sabtu pagi, 13 Mei 2022, peserta kegiatan Tani Bestari melakukan panen bersama. Benih yang sudah disemai dan dipindahkan ke bedengan dan area raised bed tampak hijau dan segar. Kami memulai kegiatan dengan briefing dan doa bersama, setelah itu kami berjalan menuju area tanam dan mulailah tangan kami mencabuti sayuran yang sudah siap panen satu persatu. Dalam prosesnya saya berpikir, “begini ternyata rasanya panen hasil yang ditanam tangan sendiri, membuat deg-degan dan sangat menyenangkan”. Setelah selesai dipanen, seluruh sayuran diangkut untuk dicuci dan dibagi rata kepada para peserta Tani Bestari. Proses yang cukup melelahkan membuat kami semua sepakat bahwa bertani adalah proses yang membumikan kembali jiwa dan raga seseorang, menyadarkan betapa setiap manusia dapat mengambil peran aktif dalam upaya kemerdekaan pangan.

Sebagian hasil panen Tani Bestari 13 Mei 2022

Kegiatan Tani Bestari adalah sebuah bentuk upaya peningkatan kesadaran pemuda tentang pemberdayaan pangan melalui pertanian kota. Pertanian kota sendiri sesungguhnya bukanlah rocket science, semua orang dapat mempraktekkannya di rumah dengan pengetahuan dan penggunaan metode yang tepat. Saat ini, berbagai jenis pot/kantong tanam tersedia di pasaran dengan berbagai ukuran yang menyesuaikan kebutuhan dan luas lahan yang kita miliki. Selain itu, dengan mengkondisikan tanah atau menggunakan media tanam yang tepat, tanaman pangan yang kita tanam bahkan tak membutuhkan pupuk ataupun pestisida kimia untuk tumbuh sehat dan aman untuk dikonsumsi. Salah satu metodenya adalah pertanian regeneratif, yaitu pertanian yang memanfaatkan dan memperbaiki kondisi alami tanah agar proses dan hasil pertaniannya tidak berdampak buruk bagi lingkungan, tentu saja tanpa penggunaan pupuk dan pestisida kimia, biaya pertanian pun menjadi jauh lebih rendah dan terjangkau untuk aplikasi skala rumah tangga.

Penggunaan planter bag untuk penanaman bayam brazil

Bahan pangan adalah bagian penting bagi kelangsungan hidup, Indonesia adalah negara agraris – sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian, tapi sayangnya ketahanan pangan di Indonesia tergolong rendah. Untuk wilayah Kota Bandung saja, hampir 97% kebutuhan pangan masih didatangkan dari wilayah lain (Sumber: Republika). 

“Kita bukan hanya berhak malu karena Indonesia yang katanya negara agraris ini krisis pangan, tapi kita wajib tahu kalau setiap individu punya daya untuk memerdekakan diri mereka dari krisis itu.”

Kegiatan panen yang dilakukan Tani bestari Sabtu lalu menghasilkan sekitar 38 kilogram sayur tanpa penggunaan pupuk ataupun pestisida dari 4 lahan tanam sepanjang 4 meter dan 4 raised bed berukuran 1×1 meter. Panen tersebut memberikan 2 kg sayur kepada 19 orang yang dapat dimanfaatkan sekitar 3-7 hari tergantung jumlah anggota keluarga. Bayangkan jika setiap rumah tangga dapat memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk menanam sendiri tanaman pangan yang dibutuhkan. Tentu tak hanya hal indah saja yang kita hadapi saat coba melakukan pertaniaan kota, salah satu raised bed Tani Bestari habis dimakan serangga dan menyisakan hanya 3 ikat bawang daun, namun itu menjadi pelajaran untuk kemudian mengkondisikan kembali kebun pangan agar memberikan hasil yang lebih baik di kemudian hari.

Kiri: raised bed yang diserang serangga, Kanan: raised bed lain dengan hasil berlimpah

“Saat sendirian kita hanya bisa melakukan sedikit saja, tapi bersama-sama kita bisa melakukan banyak hal”.

H. Keller

Selain kendala lahan ataupun jumlah hasil panen, kendala yang mungkin dihadapi pertanian kota adalah variasi jenis tanaman pangan. Tapi, kendala tersebut dapat sedikit banyaknya teratasi dengan membentuk perkumpulan petani kota atau komunitas yang menaungi para petani kota agar masing-masing petani kota yang menghasilkan variasi dan jumlah panen yang berbeda dari kebun mereka dapat berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan variasi tanaman pangan di masing-masing wilayah lokal mereka. Salah satu sistem pemenuhan pangan lokal itu sedang dilakukan oleh kawan-kawan Seni Tani, yaitu dengan program CSA (Community Supported Agriculture) – program ini mengajak mitra petani kota untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal di daerah Arcamanik dan Antapani di kota Bandung.

Jadi, siapkah kita untuk menjadi bagian dari pergerakan pangan mandiri?

Perkenalkan! Saya Nadhirah Seraphine, anak bungsu yang suka bertualang. Saat ini bekerja sebagai freelance illustrator dan graphic designer. Hobi saya membaca buku, berkebun dan camping ceria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.