Seni Tani Tani Bestari

Aduk Kompos: Senang dan Sehat!

Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, kami, peserta Tani Bestari, mendapatkan pembelajaran yang sangat menyenangkan dan cukup menguras tenaga, yaitu pembelajaran tentang kompos dan bagaimana cara membuat kompos (27/3). Siapa sih yang tidak tahu kompos? Apalagi sekarang ini sudah banyak yang jual dimana-mana sebagai media tanam. Termasuk saya sendiri, seringkali membeli kompos untuk tanaman-tanaman hias di rumah.

Awalnya saya mengira kompos itu sebagai pengganti pupuk, ternyata setelah menerima materi dari Kang Galih, kompos tidak sama dengan pupuk! Secara definisi kompos merupakan hasil dekomposisi dari material organik oleh mikroorganisme aerobik untuk mengubah sifat tanah. Kompos sebagai inokulasi mikroorganisme, dimana mikroorganisme tersebut banyak sekali perannya untuk kesehatan tanah dan tanaman. Peran pentingnya antara lain sebagai building soil structure, balancing pH, pest control, weed control, dan nutrient cycling.

Banyak sekali teknik pembuatan kompos yang dikenal saat ini, semua metode yang ditawarkan pun tidak ada yang salah, karena memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghilangkan sampah organik dan tentu untuk pertumbuhan tanaman. Kali ini kami dikenalkan dengan proses pembuatan kompos secara aerob terlebih dahulu, yaitu lasagna compost. Kenapa dinamakan lasagna? Kalo dari secara penampilan seperti lasagna salah satu hidangan khas Italia.

Gambar 1. Lasagna Compost

Terdapat tiga bahan untuk membentuk lasagna compost, antara lain bahan cokelatan yang mengandung karbo, selulosa, dan lignin sebagai makanan favorit fungi (contoh: daun kering, kertas, kardus), bahan hijauan yang mengandung protein, karbohidrat, dan gula untuk makanan bakteri (contoh: dedaunan atau rerumputan yang masih segar), dan bahan untuk mengikat nitrogen seperti kotoran hewan dan ampas kopi. Perbandingan bahan tergantung hasil kompos untuk jenis komoiditi apa yang akan ditanam. Misalkan untuk jenis tanaman sayur dan bunga, perbandingan antara bahan cokelatan, hijauan, dan nitrogen yang digunakan adalah 40:40:20, karena mikroorganisme (bakteri dan fungi) yang dibutuhkan seimbang. Sementara untuk jenis tanaman kayu, lebih banyak membutuhkan fungi, sehingga jumlah kandungan bahan cokelatan bisa lebih banyak lagi.

Bahan yang sudah terkumpul, ditumpuk berlapis-lapis dengan menggunakan panel kayu ukuran 1m x 1m. Urutan lapisan paling bawah yaitu bahan cokelatan, kemudian ditumpuk bagian atasnya dengan bahan hijauan, lalu dilanjutkan dengan bahan pengikat nitrogen. Bahan-bahan tersebut terus ditumpuk berulang sesuai dengan urutan hingga mencapai ketinggian 1m. Sekedar menumpuk bahan mungkin terlihat mudah, namun ternyata setelah mengalami, lumayan mengucurkan keringat di badan.

Gambar 2. Susunan lapisan Lasagna Compost

Setelah mencapai 1m, kompos disiram oleh air secukupnya, kemudian bagian paling atas ditutup, bisa menggunakan karung yang tidak terpakai. Setelah penumpukan bahan, kompos akan memanas ditunggu sampai 72 jam. Jika suhu kompos sudah melebihi 55°C, kompos harus segera diaduk.

Gambar 3 Keseruan penumpukan bahan-bahan untuk lasagna compost

Setelah membuat lasagna dan didiamkan selama tiga hari, kompos perlu di cek. Pengecekan pertama dihadiri 3 orang, yaitu saya, Kak Nadira, dan Anwar. Dari tiga kotak lasagna compost yang telah dibuat, rata-rata mencapai suhu >70°C. Selain itu, juga ditemukan kompos berwarna agak keputihan yang menandakan kehadiran actinobacter dan proses kompos sudah anaerob. Kedua temuan tersebut menandakan bahwa kompos harus segera diaduk. Sekali atau dua kali ngaduk masih aman, pengadukan selanjutnya langsung deh badan terasa pegal, terutama bagian pinggang. Sambil mengaduk, dalam hati berkata “Oh…ngaduk kompos ini sih bener-bener olahraga dan olahjiwa…”. Secara raga membutuhkan tenaga dan menghasilkan keringat dan secara jiwa benar-benar melatih kesabaran.

Gambar 4 Pengukuran suhu (kiri); Kompos berwarna agak keputihan (kanan)

Untung saja jumlah kami tiga orang jadi bisa bergantian. Walaupun sudah bergantian, tetap saja pengadukan tiga kotak lasagna compost baru selesai hampir 2 jam karena diselingi dengan istirahat yang cukup lama. Selain mengaduk kompos, obrolan-obrolan menarik turut membumbui proses pengadukan agar tidak terasa lelah. Menutup kegiatan aduk kompos hari itu, kami mencicipi garlic bread buatan Kak Nadira, dan rasanya enak banget! Mungkin ada faktor agak sedikit lapar juga setelah tenaga terkuras.

Gambar 5 Pengadukan kompos pertama bersama Kak Nadira dan Anwar

Selanjutnya tiga hari sekali kami peserta Tani Bestari bergantian mengaduk kompos. Kebetulan saat pengadukan selanjutnya sudah memasuki Bulan Ramadhan, sehingga lebih challenging karena harus ngaduk dalam keadaan puasa. Tapi setelah dijalani, ternyata bisa-bisa aja kok ngaduk kompos. Ini mungkin juga karena kondisi kompos yang sudah menyusut, sehingga lebih mudah untuk diaduk. Aduk kompos selagi puasa cocok sekali untuk membakar lemak, jadi bagi yang mau menurukan berat badan bisa banget memasukan aduk kompos ke daftar how to lose your weight!

Pengalaman mengaduk kompos ini jadi membuat saya berpikir, bahwa ternyata untuk melakukan pertanian regeneratif itu tidak mudah. Selain tenaga dan sumber daya, yang menurut saya sulit adalah konsistensi. Namun, dengan belajar membuat kompos, saya juga jadi lebih menghargai sampah. Bahwa sampah-sampah organik itu jika kita perlakukan dengan baik, bisa bermanfaat untuk kita. Selain itu, juga dengan mengaduk kompos, saya jadi lebih menghargai hal-hal kecil. Contohnya ya makhluk hidup yang sudah disebutkan sebelumnya, mikroorganisme yang memiliki peran banyak dan penting untuk kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman. Hal-hal kecil lainnya adalah menghargai cucuran keringat yang dihasilkan. Jadi terbayang hasil keringat petani-petani, jadi lebih introspeksi diri soal pangan.

Setelah 1,5 bulan berlalu, waktunya panen kompos (14/5). Panen kompos ini bersamaan dengan panen raya sayuran-sayuran yang telah kami tanam sebelumnya. Proses pemanenan kompos pun tidak lepas dari olahraga. Memasukan kompos ke dalam karung-karung juga cukup meningkatkan massa otot dan membakar lemak. Kurang lebih kompos yang kami dapatkan sekitar 242 kg. Terakhir, pembelajaran yang saya dapat, ke depannya sebelum mengaduk kompos alangkah lebih baiknya kita pemanasan terlebih dahulu, supaya efek pengadukan badan tidak terasa pegal.


Halo! Nama saya Megatrikania Kendali, biasa dipanggil Mega. Kesibukan saat ini menjalankan proses komunikasi, mengembangkan kemitraan, & mengelola pengetahuan di Yayasan Pemulih Nusantara (MULIANTARA). Sekarang lagi mencari ilmu di Seni Tani melalui program Pelatihan Urban Farming untuk Pemuda Kota Menjadi Petani Kota 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.